Yuk Melongok Museum Perjuangan Yogyakarta

Tidak seperti museum di film ’A Night at The Museum’ yang sering disambangi orang, Museum Perjuangan Yogyakarta bernasib nahas. Setiap hari salah satu museum penting bagi sejarah perjalanan bangsa itu hampir tidak ada pengunjung.

“Tiga sampai lima orang pengunjung saja sudah bagus,” kata Sri Wahyuni, petugas di mueum itu diiringi tawa.
Anehnya, saking jarangnya pengunjung, Sri menganggap maklum kondisi itu. Berbeda jika ada rombongan anak sekolah yang study tour, museum itu akan ramai. “Kadang mereka telepon dulu kalau mau datang, lalu kami layani,” tutur Sri.

Baginya, saat-saat itulah kepuasan dirinya menjadi penjaga museum. Tidak muluk-muluk, bila museum itu ramai dengan suara orang, hatinya sudah bahagia.

Museum Perjuangan Yogyakarta

Sri mengaku kesulitan mencari sebab jarangnya orang berkunjung ke Museum Perjuangan. “Mungkin karena tempatnya yang tidak strategis. Jadi banyak yang tidak tahu,” ujar Sri.

Memang, jika dibandingkan dengan Museum Benteng Vredeburg, Museum Perjuangan yang terletak di Jl Kolonel Sugiono cukup jauh dari tempat wisata Jogja, seperti kraton dan Malioboro. Padahal, museum itu menyimpan banyak artefak sejarah yang unik dan baru.

Misalnya, tempat tidur Bung Karno ketika peristiwa Rengas Dengklok. “Tidak banyak orang tahu penampakannya. Waktu itu beliau diasingkan di rumah Djiew Kie Siong,” papar Sri lagi.

Belum lagi dokumen amanat Hamengku Buwono dan Paku Alam yang menyatakan wilayah Jogjakarta menjadi bagian dari Indonesia. “Itu sejarah penting kan yang layak diketahui masyarakat,” tandasnya.

Museum Perjuangan Jogja

Selain Musium Perjuangan, di lantai bawah ada museum sandi yang tidak kalah menarik. Salah satu hal terunik yang ada di sana adalah metode penyampaian sandi lewat kepala kurir. Caranya dengan menggunduli kepala kurir lalu pesannya disampaikan lewat tulisan. Setelah rambut kurir itu tumbuh, dia baru dikirim ke tempat tujuan.

Pengunjung juga bisa mempraktikkan cara memecahkan sandi lewat permainan di komputer.

Museum yang ongkos masuknya hanya Rp 2.000 itu sebenarnya cukup lengkap. Namun tenaga yang terbatas membuatnya miskin sumber daya yang memadai. Misalnya, tidak ada guide untuk pengunjung. Hanya dua tenaga dari lima pegawai yang menunggu museum itu setiap hari.

Selain itu, tidak ada promosi untuk menarik pengunjung. Menurut Sri, Museum Perjuangan hampir tidak pernah melakukan kegiatan untuk promosi. “Selama ini, tidak ada kegiatan yang dilakukan. Hanya menunggu pengunjung yang datang saja,” tutur wanita dari Bantul tersebut.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *