Moviebox, Alternatif Nonton Film ala Home Cinema Jogja

Jika anda ingin menonton film selain di bioskop, cobalah Moviebox. Bioskop mini ini saat ini menjadi alternatif nonton film ala home cinema di Jogja yang banyak disukai anak muda. Bioskop mini itu menyediakan beberapa ruangan dengan maksimal mampu menampung 24 orang dengan suasana yang nyaman sehingga membuat penonton bebas berekspresi.

Menurut Marketing Communication Manager Moviebox Ide Hafih, Moviebox memiliki lima jenis ruangan yaitu ruang VIP, ruang luxury, ruang deluxe, ruang family, dan ruang suit. Namun, ruang luxury hanya ada di Moviebox cabang Seturan, sedangkan ruangVIP dan deluxe hanya ada di Moviebox Gejayan.

Menurut pria yang akrab disapa Hafizh itu, Moviebox Gejayan memiliki konsumen yang berbeda dengan Moviebox cabang Seturan. Konsumen di Gejayan, tambahnya, sudah terbiasa menonton berdua, sedangkan konsumen di Seturan terbiasa menonton rombongan.

moviebox

Hafizh mengakui bahwa Moviebox diperuntukan bagi kelas menengah ke atas. Sedangkan konsumen paling banyak adalah konsumen remaja dan mahasiswa serta pekerja muda.

Beda Menonton di Moviebox dengan Bioskop

Apa yang membedakan menonton di Moviebox dengan di bioskop?

Jika di bioskop biasanya konsumen memilih film-film box office, sementara di Moviebox konsumen bebas memilih judul film baik film baru, film lama, maupun film indie yang disebutnya film festival.

Sebagian besar konsumen, menurut alumni UIN Sunan Kalijaga itu, lebih banyak memilih film horror, terutama horror Asia. Namun, ada juga yang menonton film-film festival. ’’Bukan hanya komunitas saja yang menonton film festival, konsumen umum juga senang menonton film festival,’’katanya.

Film-film festival itu pun bukan hanya berasal dari Indonesia, tetapi juga dari negara lain seperti Perancis, Amerika Serikat, dan Irlandia.

Selain itu, ujarnya menonton di Moviebox lebih nyaman karena lebih bebas. Menurut dia, dengan menonton di Moviebox yang mirip Home cinema, konsumen akan bebas berteriak ketakutan ataupun menangis. Hal tersebut tentu saja tidak bisa dilakukan di bioskop karena akan menganggu penonton lain.

Home Cinema Jogja

Menurut pria asal Bondowoso, Jawa Timur itu, tempat nongkrong Jogja ini memiliki tag line bukan sekedar tontonan tapi juga tuntunan. ’’Penonton di sini bukan hanya mencari hiburan tetapi juga mencari inspirasi untuk kehidupan,’’katanya.

Hal tersebut juga dimasukkan ke dalam menu makanan. Misalnya menu daging ayam yang disiram saus. Menu itu diberi nama Chicken Little. Ada pula menu bernama Slumdog Millionair yaitu nasi goreng keju. Menurut dia, nama itu diambil dari judul film India yang mencerminkan bahwa India kaya akan rempah-rempah.

Hafizh tersenyum menanggapi bioskop mini di salah satu mal yang menggunakan nama yang sama. Menurut dia, pemilik Moviebox 3D itu berbeda dengan pemilik Moviebox di Gejayan dan Seturan. Menurut dia, Moviebox 3D hanya menebeng nama.

Walaupun begitu, pihaknya tidak mempermasalahkan hal tersebut. Menurut dia, 3D Moviebox memiliki segmen yang berbeda dengan Movibox. 3D Moviebox lebih banyak memutar film anak-anak.

Bukan Saingan Bioskop

Pun begitu, pihaknya juga tidak perlu bersaing dengan bioskop. Film-film di bioskop adalah film-film pilihan. Sedangkan di Moviebox disediakan pula film-film yang tidak beredar di bioskop. Selain itu, sebelum menonton film, konsumen bisa menonton cuplikan film di trailer, sementara di bioskop konsumen hanya bisa melihat melalui poster yang dipajang.

Untuk film-film yang tidak beredar di bioskop itu, menurut Hafizh, pihaknya memesan dari distributor. Staffnya pun terlebih dahulu diajak menonton film-film itu. Apabila ada konsumen yang menanyakan judul film yang bagus, maka dia dan staffnya akan membantu merekomendasikan judul film. Film-film tersebut juga masuk dalam daftar rekomendasi dan konsumen pun bebas memilih. Biasanya, konsumen memilih film-film yang belum pernah ditonton namun direkomendasikan oleh Moviebox.

Moviebox juga menyediakan menonton film 3D bagi konsumen yang berminat. Namun, menurut Hafihz, belum banyak konsumen yang menonton film itu.

Selain menonton film, ada pula konsumen yang menonton serial Asia. Menurut pria yang hobi nonton film animasi itu, konsumen yang menonton film itu bisa berjam-jam. Namun, pihaknya tidak membatasi konsumen ketika menonton film bahkan yang melebihi jam operasi yaitu pukul 24.00.

Hafizh mengatakan, Moviebox juga menyediakan televisi dan majalah film bagi konsumen yang antri. Dalam sehari, Moviebox bisa memutar film 40 kali. Jumlah penontonnya beragam, ada yang hanya berdua hingga 20 orang.

Berawal dari Rental VCD

Moviebox baru saja merayakan ulang tahun ke-7 pada 11 Februrai lalu. Menurut Hafizh, Moviebox awalnya adalah sebuah rental VCD. Moviebox pertama kali berdiri di Gejayan. Dan membuka cabang di Seturan pada Agustus 2008.

Moviebox beberapakali berganti nama. Pada 2003, rental itu bernama Top 10.Pada tahun itu, Bioskop Mataram tebakar, sehingga membuat warga Jogja kekurangan tempat menonton film.saat itulah Top 10 bukan hanya sekedar rental VCD tetapi juga berkembang menjadi persewaan alat nonton. Seperti sound, proyektor, kaset film, dan player.

Barang-barang itu, kata pria berkacamata itu, diletakkan dalam sebuah box berwarna hitam.’’Box itulah cikal bakal nama Moviebox,’’kata pria ramah itu.

Setelah berubah nama menjadi Moviebox, pada awal 2004, pihak Moviebox mengadakan roadshow ke kampus-kampus di Jogja. Mereka pun dekat dengan komunitas yang mengusulkan untuk membuka ruangan untuk menonton film. Hingga saat ini, Moviebox bukan hanya home cinema, tetapi juga menyediakan lounge, rental, dan merchandise.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *